TUHAN TOLONG DENGARKAN CURHAT KAMI

ilustrasi : gambar riill

Curhat dari medan pengungsian, medan juang hutan rimba Momuna. Curahan hati ini bukan curahan hati yang sempurna seperti Tulisan Opini di dinding Facebook Marinus Yaung yang romansa, tak seperti lantunan merdunya musik Sisir kantong plastik Rumbino yang membuat kagum banyak orang pasifik, atau Narasi menawan Putri Nere, dan Kutukan dasyat Pdt. Yosua Theu.

Tapi kata-kata rakyat Papua yang terdayuh dan mala di tengah lautan darah rakyat Papua tak berdosa, Kata-kata saban dari kalbu rakyat Papua yang mati dibunuh, kata-kata tulang pelulang yang berseraka di plosok negeri papua, kata-kata gelabah rakyat terdintas yang halai-balai, dan kata-kata Bilur dan gamang yang terurai dari lidah Rakyat Papua yang lemah dan tak bertulang.

Ribuan cerita tertoreh dalam perjalanan perjuangan Bangsa ini di kota yang berjuluk Seribu Satu Jembatan ini. Cerita tentang penderitaan yang di alami dan dirasakan oleh orang tua, ade dan kaka, tete dan nene yang hari ini berada di kem-kem pengungsian. Yang hari ini tak terekspos ke publik di media, media resmi juga media sosial (Medsos).

Akibatnya kejahatan terus tumbuh dan subur di kabupaten yang memiliki motto Damai sejahtera itu. Realita kejahatan ini jalan telanjang di depan mata semboyan damai sejahtera ini, kota ini menjadi medan perang, menjadi kota yang penuh darah dan luka. Luka-luka itu terus bertambah, tak ada hari tanpa denger bunyi pelatuk. Semua itu menjadi misteri yang sulit kita selidiki dan ungkap. Benar kah semua bunyi pelatuk itu karena TPN-PB, atau kah ada yang mengambil keuntungan untuk mengenyangkan perut dari balik bunyi pelatuk itu.

Tahun 2022 yang lalu hingga kini berjuta-juta pasukan dari seluruh satuan dikerahkan Negara ke tanah Papua secara umum dan secara khusus di kabupaten Yahukimo, Ndugama, Intan Jaya, hingga Pegunungan Bintang, Dogiay dan Sorong atas nama kedaulatan NKRI. Berjuta-juta nyawapula melayang atas nama NKRI harga mati. Di pihak Klonial Militer, TNI dan POLRI maupun TPN-PB, Juga masyarakat migran jawa yang hidup di tanah papua maupun pribumi Papua (OAP). Jumlahnya tak sedikit, dan tak mampu hitung. Sekalipun, PBB menghitungnya dengan alat canggih, jangankan alat canggih buatan manusia dunia! Mungkin Tuhan juga tak sanggup menghitungnya.

OAP sebagai bangsa terjajah mengalami berlipat ganda hingga bertubi-tubi penderitaan, sejak tanah Papua direbut paksa oleh NKRI dengan cara kotor dan jurang, pada tahun 1961-1969 lewat PEPERA mulai dari penyiksaan, pembunuhan, penangkapan pemenjaraan, peminggiran dan pemerkosaan terus terjadi dan dialami oleh rakyat Papua.

Kondisi ini tak pernah ada orang yang menanggapinya dengan serius. Baik, orang Papua sendiri, ataupun orang di dunia terutama komisi tinggi HAM PBB, mata dunia buta terhadap penderitaan rakyat Papua. pembunuhan masal dan Genosida Ras di tanah Papua seolah menjadi sebuah kewajaran. Seolah dunia mengiyakan Ras Papua dimusnakan oleh NKRI, agar dunia dapat pasok hasil SDA dari tanah ini.

Oh, Tuhan!
Kenapa Tuhan kasih turun sepenggal tanah yang katanya surga kabo ini di bumi cenderawasih? Kenapa Tuhan tak kasih di daerah lain? Tuhan, kenapa?

Rakyat Papua mohon, Tuhan. Tolonglah, jawab. Kami mau ada jawaban pasti dari Tuhan, bukan harapan palsu yang diberikan seperti para pemuka agama yang katanya hamba Mu, di tanah ini!

Cukup sudah, orang-orang di PBB dan dunia biarkan kami menderita. Tuhan, jangan Kau lagi membiarkan kami dan mendukung indonesia menjadi tim suksesnya dalam memusnahkan kami seperti Pdt. Yosua Theu mengutuk kami di tanah kelahiran kami sendiri.

Kami tidak mau nanti ada cerita, kalau pulau Papua ini pernah dihuni oleh orang kulit hitam tapi sudah puna. Kami tidak mau tinggalkan cerita itu. Namun, kami masih mau hidup dan pekerja tanpa ada takut dibunuh, disiksa, diperkosa, dipenjara, ditangkap dan dipinggirkan dari tanah kelahiran kami sendiri.

Tolong kami Tuhan, kami mau bebas. Kami mau tidur nyenyak, kami mau duduk tenang, kami mau makan dan minum tenang, kami mau berkebun tanpa ada ketakutan, kami mau segalanya tanpa ada kata “Takut” di rumah kami.

Tuhan, bebeskan kami. Kami mau ada kebebasan dan keadilan yang teradil untuk semua, sekali lagi tolong bebaskan kami seperti Engkau bebaskan bangsa Israel beberapa ribu tahun lalu.

Tuhan, kami pernah dengar cerita berulang kali dari para hamba-hamba Mu di Gereja-gereja, kalau Tuhan pernah bawa keluar dan bebaskan bangsa Israel dari perbudakan pemerintahan Firaun yang kejam dan otoriter itu ke tanah asal Perjanjian Allah melalui Musa dan Yosua.

Tapi kenapa, Tuhan tak pernah mau utus Musa dan Yosua yang lain untuk bebaskan rakyat Papua dari tangan NKRI yang sangat kejam ini. Kenapa tak ada keadilan untuk kami rakyat Papua?

Padahal kami juga dengar cerita dari para hamba-hamba Mu di gereja, kalau Tuhan Engkau juga adalah Maha adil, Maha Pengasih, hingga ratusan Maha berlapis-berlapis, yang terutama Maha tahu dan Maha Pemenuh Janji..

Tapi kenapa, Tuhan tak pernah ketahui keadaan rakyat Papua. Kenapa Tuhan tak ada belas kasihan sedikit saja untuk kami. Kenapa tak ada keadilan bagi kami, kenapa Tuhan tak pernah penuhi janji seperti Engkau memenuhi janji Mu, terhadap Adam, Abraham, Isahk dan Yakub di Israel?

Oh, Tolong!
Keadilan itu harusnya adil. Jika waktu lalu Tuhan kasih kebebasan dan keadilan kepada bangsa Israel, kenapa kami rakyat Papua tidak bisa? Bukan Kau yang disebut Maha adil? kami butuh kebebasan dan keadilan untuk selamatkan kami. Kami sudah habis, jika Tuhan terlampat kami akan puna diatas tanah sendiri. Tolong kami, Tuhan.

Waktu lalu Tuhan kasih Yosua kepada orang Israel, untuk bawa orang Israel menyeberangi sungai Yordan. Dan Tuhan juga bawa keluar bangsa Israel dari perbudakan pemerintahan Firaun yang Otoriter itu, Melaui Musa. Tapi?

Kenapa tidak ada Yosua dan Musa-Musa yang lain untuk selamatkan bangsa Papua? Bukan kah kami ini umat kepunyaan Mu? Bukan kah kami diciptakan sesusi gambar dan Rupa Mu? Tuhan, kami mau dengar jawaban pasti atas Pertanyaan-pertanyaan yang kami layangkan di atas ini.

Semoga curhat yang kami layangkan teriring air mata ini sampai ke telinga Tuhan, Syalom.

Jayapura 8 September 2023
Hear Jr ✍️
Penulis adalah orang biasa, dari holandia jarang disebut kota study

Diterbitkan oleh Hear Jr

terima kasih sudah kunjungi

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai