Idealisme papua merdeka

Minggu JAYAURA PAPUA 17 september 2023

Ilustrasi gambar : oleh hear Jr

A. Persoalan Utama

Sebelum memberikan pemikiran original sebagai masukan solusi pembenahan total paradigma baru, perlu dijelaskan dulu apa itu kata “Kiamat” secara rasional (akal sehat) menurut bahasa dan pengertiannya dalam pengunaan kata ini selanjutnya.

Kata kiamat (Arab; Qiyamah) artinya berdiri, bangkit. Papua Bangkit, “Papua Berdiri” maknanya sama. Saya gunakan istilah ini.

Idealisme Papua soal “Kiamat” tidak akan pernah mati, sampai kapanpun, orang Papua tetap menuntut Papua “kiamat”.

Sebaliknya atas dasar kepalsuan nyawa tidak lagi berharga korban selalu dan selamanya sepanjang “atasan” tidak ada kemauan kompromi.

Tawaran ini boleh jadi bukan solusi malah subversif. Tapi keimanan islam saya menuntut jujur sesuai hati nurani kebenaran hakiki.

Dasarnya kebenaran untuk kebenaran dari perspective antropologis, teologis dan filosofis, apapun pembenaran, kebenaran harus ditegakkan. Itulah iman kristen hakiki yang saya yakini kebenarannya.

Suatu kebohongan cepat atau lambat pasti suatu saat akan runtuh kalau tak boleh dikatakan terbongkar. Tulisan ini betapapun lemah mau membongkar itu.

Kebenaran tidak bisa dimanipulasi dengan kedok pembenaran dengan alasan apapun atau akhirnya kejahatan, korban myawa, selama belum kiamat jika benar ada kiamat (agama).

B. Idealisme Papua

Ide artinya gagasan. Idealisme Papua Kiamat dimaksudkan usaha secara terus-menerus antar generasi, sepanjang itu pula idealisme itu nyata ada selamanya abadi. Dasarnya kebenaran. Kebenaran Tuhan (hakiki).

Hari qiyamah (kiamat) kurang lebih dapat dipahami disini, bukan menunggu ketidakpastian “kehadiran”, kapan Tuhan Datang. Tapi mengharuskan diri kita, lebih cepat jemput “kiamat” tinggalkan segala bentuk konsep eskatologi belum pasti.

Kita mengharuskan diri kita beranjak dari kenyataan ‘ada’ bukan dari tiada apalagi menanti ketidak pastian Tuhan kapan datang.

Bagi penulis hari “qiyamah” dimaksudkan, jika benar bahwa tidak pernah benar ada akhir dari kehidupan manusia adalah misteri kematian pribadi-pribadi, atau Qiyamah dimaksudkan (Papua Bangkit) Qiyamah (kiamat).

Persoalannya menanti kiamat itu berapa lama disini penyebabnya adalah bahwa memperjuangkan idealisme pembebasan Papua ‘kiamat’ secara holistik lebih banyak sebabnya karena konsep perjuangan dari konsepsi asing. Sehingga gerakan massal rakyat tidak muncul karena kita tidak beranjak dari kenyataan ada tapi penerapan konsepsi asing lebih bersifat mesianistik,”menunggu”.

Padahal karakter asli Budaya Papua egaliter, tegas,langsung tanpa basa-basi.

Penerapan konsep perjuangan kiamat bukan dari semangat mentalitas rakyat yang hidup dan berkembang adalah “biang kerok”, penyebab gagalnya perjuangan penegakan hak asasi manusia Papua hari ini.

Hegemoni budaya adopsi orang lain mengalienasi kita orang pribumi dan penyebab utama para tokoh Papua lemah kompromi.

Selama ini gerakan perjuangan ‘kiamat’ menerapkan segala konsepsi asing. Akhirnya mentalilatas rakyat teralienasi tercerabut dari akar-akarnya, menjadi aneh dalam habitat diri.

Konsep ‘kiamat’ dikontruksi kembali dari kenyataan nilai hidup dan dianut masyarakat sesuai Adat Budaya Papua.
Selama ini kita lupa nilai adat budaya sendiri sebagai penyebab kegagalan perjuangan hari kiamat.

Kita tidak memulai dari kenyataan ada melainkan menyerahkan total soal ‘kiamat’ pada Tuhan.

Padahal Tuhan sendiri hanya pelarian senjata orang kalah demikian Friedrich Nietzsche dan Karl Marx di Eropa pada abad ke-18 lalu.

Perjuangan gerakan Papua akhirnya menunggu. Terbatas yang mampu menerima dan mengerti dialektika teologi yang sesungguhnya sejak dini dikritik (averrous).

Dialektika konsepsi teolog “melangit” tidak dipahami oleh masyarakat retorik umum dan kalangan rasionalis (demonstratif) sehingga tak “membumi” malah mentalitas rakyat teralienasi.

Akibatnya dialektika monolog, hanya kalangan tengah keatas, kalangan teolog, yang punya akses pengetahuan lain. Rakyat akhirnya dijauhkan terasing dari budaya mereka sendiri.

Perjuangan didominasi budaya asing, malah tidak dipahami, terasa asing oleh semua kelompok atas dan bawah rakyat yang masih menghayati nilai Adat dan Budaya mereka sendiri.

Konsekuensi langsung pada mentalitas, kebingungan, devrivation, alienation akhirnya orang bicara Papua Kiamat (bangkita) momok menakutkan bukan hak asasi yang harus dituntut sekarang, saat ini.

Malah sabar, damai Tuhan datang membebaskan hingga perjuangan mati Otsus Papua diberlakukan para tokoh lebih sibuk rebutan jabatan lupa idealisme sendiri.

Rakyat dibuat tidak mengerti Papua ‘bangkit’ adalah hak dan mereka harus meraihnya kembali karena itu suci (fitrah) alami.

Karena kebebasan adalah hak rakyat Papua wajib meraih atas kebebasannya tanpa takut bersuara kebenaran nurani diri bereksistensi sebagai makhluk mulia dimuka bumi secara bermartabat.

Singkatnya bahwa kesadaran hak politik bebas tidak terbangun maksimal. Bahkan kelompok atas dan bawah tidak terlibat menentukan nasibnya sendiri, tapi dari mulut-kemulut, siapa melakukan apa dan bagaimana perjuangan penegakan kebenaran sejati.

Perjuangan Papua kiamat (bangkit) yang menjalani hanya kalangan tengah, dialektika teolog. Bukan lagi perjuangan rakyat semesta.

Sebab kelemahan perjuangan Papua bangkit (kiamat), menurut saya, gerakan pembebasan bukan dari akar budaya sendiri, budaya Papua, tetapi budaya agama yang asing bagi Papua menyebabkan gerakan perjuangan stagnan dan akhirnya gagal.

C. Pendidikan

Rakyat Papua mayoritas penduduk primitive tempat elit terdidik dan pemerintah melalui agen koloninya mendorong dan menggiring memasarkan ideologi lain.

Untuk itu guna mempertahankan nilai nilai sejati karakter Papua Asli dalam situasi seperti ini perlu merkontruksi kembali dari nilai-nilai Papua Asli secara total pertama adalah Pendidikan.

Kurikulum Pendidikan dengan bobot muatan nilai lokal dengan kewajiban Bahasa Inggris dan bahasa Daerah harus disusun ulang para pakar pendidikan Papua.

Penyususnan kurikulum Pendidikan bermuatan nilai lokal dan bahasa inggris sebagai bahasa standar ajar sisiwa anak anak didik Papua kedepan dapat mengejar ketertinggalan dan mencetak generasi Papua berkarakter lokal berfikiran global.

Untuk itu rekomendasi pertama Pemerintah Kedua Proponsi Papua harus alokasikan dana Otsus 60% dialokasikan kebidang pendidikan.
Mengingat dominasi nilai ideologi luar memgukung cara pikir rakyat Papua. Bahkan kelompok lain sektarian masuk melakukan hambatan dari dalam dan biasanya lewat lembaga agama apapun.

perjuangan damai tak selalu sejalan dengan budaya dan karakter adat Papua sebagai sebuah bangsa yang memiliki kebudayaan dan mentalitas sendiri.

Pendekatan perjuangan damai, kalaupun ada penerapannya tidak persis yang dihayati rakyat, sementara pelaksanaannya dominan nilai asing agama tak mendasar pijakannya dibumi Papua.

Ketidak merataan intelektual sebagai penyebab lemahnya milintasi rakyat seluruh. Akhirnya jabatan Otsus.

Para petinggi menerima tawaran lain daripada mempertahankan prinsipnya sendiri. Ada harapan pada para teolog tapi ‘melangit’ tidak ‘membumi’.

Demikian diperumit teolog non Papua, sebagai agen, yang memiliki idealisme Sendiri mau mengiring rakyat bagian tak terpisahkan dari kesatuan darimana mereka berasal.

Agama semula penggerak perjuangan Papua Kiamat. Penguasa melihat ini bahaya, maka dimasukilah semua lembaga agama dan dipasang agen mereka disemua lembaga pengambilan kebijakan pemerintah dan agama.
Hasilnya semua keputusan lembaga agama diintervensi dan dipatahkan. Dominasi elit berpendidikan Papua temarginalkan.

Elit terdidik Papua sibuk dengan Otsus tidak lagi memikirkan apalagi memperjuangkan Papua Kiamat. Jika tidak cepat sadar dominasi agama dan asing sama artinya menunggu pemunahan bangsa dan kekayaan alam, karena mengulur-ulur waktu dan rakyat semakin teralienasi dari akar budaya sendiri.

Papua menunggu kepunahan dalam arti sesungguhnya menjadi sama dengan warga “Aborogin Autralia, dan Indian Amerika.

Padahal negara-negara Barat sejak revolusi politik di Prancis sebagai gerakan perlawanan terhadap agama (Gereja) yang dominan, telah melahirkan paham rasionalisme. Paham kembali pada yang nyata bukan idealisme Tuhan datang mengubah.

Laicisme (paham keawaman) di Prancis telah meruntuhkan lembaga otoritas mutlak Gereja dan Raja yang dominant adalah awal dimulainya revolusi yang melahirkan paham baru yakni egalitarianisme, humanisme dan leberalisme berhadapan dengan lembaga Gereja dan Raja di Barat-Eropa.

Dominasi dan hegemoni pemikiran rasional averoeisme telah membangkitkan kembali Eropa, dengan pemisahan dua kebenaran, yaitu lembaga gereja dan negara, sebagai kebenaran ganda (double thrush).
Demikian ilmu pengetahuan mempengaruhi cara pikir Barat Eropa dari abad 12 oleh dorongan pemikiran averroisme (baca Ibnu Rusyd) yang menghegemoni Eropa abad pertengahan.

Mulanya Gereja menolak pemikiran rasional Ibnu Rusyd dianggap sebagai “bahaya” dan “kafir”. Namun pada akhirnya menjadi dominan di Eropa pada abad pertengahan, apa yang kemudian dinamakan era renainsance melahirkan pencerahan (Aufklarung) di Barat, yang puncaknya positifisme empiris lingkaran Wina (Wina circle).

Demikian kenyataan pembebasan manusia dari ketergantungan pada Tuhan yang berlebih, di Barat melahirkan rasionalisme secular dominan. Dan kemunduran dunia islam yang berlebihan oleh akibat harapan dan ketergantungan nasib pada Tuhan menjadi mundur dan kalah saat ini.
Secularisme yang dimensinya adalah, humanisme, liberalisme dan egalitarianisme melahirkan suatu sikap masyarakat rasional di Eropa.

Namun rasionalisme yang melahirkan era modernisme sciance dan tekhnologi Barat yang itu memudahkan hidup manusia menjadi piranti (persembahan) baru bagi masyarakat Barat adalah satu masalah tersendiri di abad ini. Dan hal itu menjadi otokritik di Barat sendiri (Cak-Nur, Religiutitas Masyarakat,1997).

D. Hegemoni Agama

Kalr Marx dari Jerman (1818-1883) menyebut, “Agama Opium Rakyat” dan Friedrich Nietzshe (1844-1900), “Nihilisme”. Sebagai kritik mentalitas rakyat, sejak itu perubahan orientasi secular menjadi kecenderungan hidup di Barat.

Barat jarang mengunjungi tempat Ibadah jadi museum hidup bagi kaum muda pada hari libur tertentu, dapat dibeli imigran Turki, Afrika, Asia atau Timur Tengah berubah fungsi dari semula.

Sebaliknya disini (Papua) kecenderungan sikap hidup dan pikiran lebih orientasi ketaatan pada Tuhan dan agama sangat dominan bagus dan semangat.

Bobot perhatian pengabdian hidup manusia pada Tuhan begitu besar dapat dilihat dari pembangunan gedung Ibadah bernilai puluhan hingga ratusan milyar uang Otsus rakyat Papua.

Para pekerja rohani sering didatangkan melalui kegiatan KKR dan perjalanan spritual ke Israel dibiayai uang rakyat kesana untuk lebih menghayati nilai kehadiran Tuhan lebih dekat dihati rakyat Papua.

Para pekerja rohani didatangkan dari luar maupun datang sendiri sebagai rumahnya sendiri adalah orang non Papua yang biasanya mendapati diri sebagai minoritas di Indonesia dan di Papua dijadikan sebagai rumah mereka. Ada satu dua mereka mencoba mengindonesiakan orang Papua lewat pendekatan agama kurang disadari para pemimpin Papua.

Hal ini lebih dalam penganut agama Islam. Muslim lebih dari yang dipaparkan mengenai masyarakat pendukung dan pendorong “Manukwari Kota Injil”.

Muslim dua kelompok, pendatang dan pribumi. Yang disebut kedua kategorisasi dan sikap serta interpretasi agama antara tersesatkan dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.

Muslim “amber” mayoritas, bahwa perjuangan Papua menyangkut kebenaran nilai islam universal, dan juga kewajiban (fardu ‘ain). Jika memahami agama secara adil dan benar.

Islam apalagi intrepretasi nilai-nilai kebenaran universal yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, boleh jadi hasilnya jauh berbeda dari nilai kebenaran sejati.

Masyarakat muhajirin (amber) sangat berbeda dalam banyak hal menyangkut penafsiran dan utamanya pemahaman. Hal ini banyak dipengaruhi faktor sekunder lainnya yang melahirkan sikap apatisme dalam rangka mengambil bagian dalam penegakan nilai kebenaran universal agama mereka. Apalagi petugas sebagai alat penjajah yang didatangkan sebagai penjaga kedaulatan wilayah jajahan, bukan menjadi tema yang cocok pembahasan disini.

Kelemahan umumnya Muslim Papua semakin menjadi nyata dengan adanya hegemoni penafsiran Islam tunggal dan diterimanya penafsiran tunggal tanpa reinterpretasi sesuai konteks sosial budaya Papua.

Islam tidak dipahami sebagai sebuah nilai kebenaran yang bersifat universal bahwa Indonesia mayoritas Islam, bahkan banyak kalangan muslim belum menyadari kalau dirinya dijajah adalah kenyataan Muslim Papua yang tersesatkan.

Sebagaimana banyak laporan para ahli bahwa Islam telah lama ada Agama Islam dari abad ke 15. Kerajaan Islam hanya pesisir Selatan, penganutnya orang Papua sendiri.

Penyebar Islam di Fak-Fak terdiri dari beberapa kalangan salah satunya seorang saudarga dari Aceh. (Ali Athwa, 2007).

Islam hanya terbatas di daerah Pesisir Selatan (Fak-Fak, Bintuni, Kokoda, Kaimana, dan Raja Ampat).

Kerajaan Islam Selatan Utara Papua dibawah dominanasi Maluku Utara. Maluku Utara masih tunduk pada kesultanan Turki Utsmani sebagai jaringan perdagangan dengan kerajaan Islam Asia Tenggara.

Hubungan perdagangan dari Gujarat dan Hadramaut pada Abad 13-18 diakhiri oleh kedatangan Purtugis-Eropa.

Jika diamati pengaruh agama, maka pengaruh itu dipesisir Utara antara Kepulauan Biak dan Serui, dan sebahagian kota Jayapura.

Injil dibawa oleh Otto dan Geisler dari Jerman setelah 9 bulan tinggal di Batavia (Jakarta), melenjutkan perjalanan ke Papua, tanggal 5 Februari 1855.

Proses penginjilan tidak langsung dimulai. Bertahun-tahun mereka menjadi tukang kayu dan tinggal di Manukwari (Gyai, 1997).

Merauke dan sebahagian pegunungan (Suku Dani di Lembah Balim dan Suku Ekari, Mee, Paniai) sekitarnya Katolik, mendapatkan pemeluknya dengan pola penyebaran akulturasi dengan budaya setempat yang bercampur menjadi sinkretisme baru dalam proses pembentukan dewasa ini.

Mayoritas penduduk Papua hidup dewasa ini didominasi nilai adat dan budaya Papua asli non agama khususnya di Wilayah Pedalaman. Bahkan para ahli agama yang melakukan penelitian Agama dan budaya orang Fasifik menunjukkan bahwa; “Agama bagi orang Papua adalah alat atau sarana bagi pencapaian prestis.

Bukan karena ia menerima Yesus atau Muhammad sebagai kebenaran atau Jalan dan Hidup, melainkan lewat jalan ini orang Papua mencapai suatu tujuan lain, prestis” (Benny Giay, 1997).

Agama semula bagi banyak orang jalan untuk prestis. Agama diakui Benny Giay, bagi orang Papua, bukan karena kebenaran agamanya, tapi untuk suatu tujuan samping (prestigous).

Lewat agama seorang Kepala Suku, Ondoafi, Ondofolo, Kepala Kampung, disebut namanya, demikian prestis seseorang diakui, hebat dihormati.
Hal demikian dengan sendirinya terjadi pada seluruh suku bangsa Papua, sehingga penerapan konsep asing bukan kebutuhan.

Apalagi sebagaimana diketahui bahwa penduduk terpadat dan dominant terdapat di daerah-daerah yang sulit di jangkau, terutama di daerah Pegunungan Tengah Papua yang lebih dominant menghayati nilai-nilai Melanesia (Papua) daripada lain.

Demikian Kepala suku Haji Muhammad Aipon Asso, tatkala Indonesia masuk Papua, demikian juga Abdurrahman Kosay, Ismail Yenu, Haji Irvan Wantete, Musa Asso dan para tokoh agama Nasrani.

Demikian di Lembah Balim pada tahun 1954, Missionaris Amerika dari organisasi CAMA pertama kali datang. Dan pada Suku Ekari, Mee, era 30-an dan Moni, Amugme lebih belakangan lagi, pertarungan mempertahankan nilai-nilai lama dipihak orang Papua dan pemaksaan nilai-nilai dan konsepsi baru para agamawan dipihak Missionaris telah lama berlangsung sampai sekarang.

Ukumearik Asso dari Hitigima, Lembah Balim Selatan dan Kurulu Mabel di Lembah Balim Utara, didatangi sebagai tindakan penyelamatan diri Missionaris bukan menerima agama.

Karena sebelumnya berdasarkan laporan expedisi ilmiyah pimpinan J. A. G. Kremer didaerah itu dalam perjalanannya ke Puncak Trikora dalam tahun 1920 dan 1921, dan dengan kedatangan expedisi ilmiyah Sterling dalam tahun 1926, yang melaporkan bahwa Suku Dani Kanibal, menyebabkan para missionaris seperti Benny dan Myron Bromley, karena takut, mencari perlindungan pada Kepala Suku Besar. (Pemda Papua, 2001).

Diterbitkan oleh Hear Jr

terima kasih sudah kunjungi

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai