Geopolitik Global di Era Industri 4.0, Tantangan & Peluang Bagi Perjuangan Rakyat Bangsa Papua Barat Untuk Penentuan Nasib Sendiri
Game dadu panggung internasional memain peran penting negara-negara maju sebagai geostrategi politik luar negeri dibalik isue kerjasama bilateral dan multilateral berfokus pada “kerjasama Ekonomi” yang saling menguntungkan.
Selain itu, Persaingan (perang) idealisme dalam konteks liberalisme (kapital) vs sosialis (komunis) juga masih kental sepanjang masa meskipun perang dunia II sudah berakhir secara fisik (perang konvensional). Perang dagang dan perang teknologi terus bergulir di negara-negara produsen terus berlanjut hingga kini masuk pada era industri 4.0.
Di tengah kondisi Geopolitik internasional sudah seperti ini, perang konvensional berskala kecil nilai jualnya relatif lebih rendah dibanding jenis perang lainya.
Perang konvensional secara sistem politik internasional tentu sudah usang seiring berakhirnya perang dunia II dan runtuhnya Uni Soviet kini Rusia. Hal ini salah satu pertimbangkan (evaluasi) tersendiri bagi para pejuang di wilayah-wilayah tak berpemerintahan sendiri yang sedang berjuang untuk penentuan nasib sendiri (self determination) di bawah resolusi PBB No.1514 misalnya, Oromo, Ethiopia Afrika, Sahara Barat, Palestina, Catalonia, New caledonia, Papua Barat dsb.
Untuk issue HAM, memang salah satu isu lintas global yang mampu menembus kedaulatan suatu negara, namun isu HAM juga intensitasnya rendah di panggung internasional. Sebab negara-negara di dunia pada era industri 4.0 sedang sibuk membangun kerjasama ekonomi memajukan negaranya untuk mengejar ketertinggalan pembangunan.
Sebagai tanggung jawab moral, Saran kami untuk Evaluasi secara menyeluruh bagi para pejuang pembebasan Bangsa Papua Barat:
- Perang Kerilya selama beberapa tahun terakhir sudah berjalan cukup baik. Tetapi dilain sisi kurang efektif karena strateginya kurang mapan sehingga pihak pimpinan TNPB-OPM harus evaluasi total dan meningkatkan kemampuan perang di tingkat softskill maupun hardskill.
- Juru bicara, ketua, dan diplomat militer TPNPB-OPM fokus lobi dan mendatangkan alat tempur seperti Senjata modern, alat komunikasi, satelit, alat jaringan internet dll. Tujuan-Nya untuk persiapan perang berskala besar.
- Meningkatkan kemampuan inteligen di setiap basis dan sektor pertahanan komando.
- Perang harus dibagi menjadi
a. Perang konvensional (lapangan)
b. Perang Cyber (proxy War)
c. Perang Media
e. Perang Buzzer - Untuk mendukung perjuangan PM, para pejuang Mesti investasi ekonomi dalam bentuk apapun diluar negeri seperti, PNG, SI, Vanuatu, AU, dll.
- Para diplomat selain diplomat militer kembali fokus bangun pendekatan (formula) yang komprehensif kepada negara-negara ujung tombak Melanesia. Kami yakin dan percaya bahwa diluar dari negara² Melanesia tidak mendukung kita 100 persen. Sebab Sistem politik rasial masih kental di panggung internasional terutama di PBB jadi dukungan moral serumpun negara-negara Melanesia adalah hal mutlak. Tidak bisa kita diplomasi di negara² yang rumpun-Nya berbeda dengan kita.
- Negara-negara yang tidak serumpun dengan kita seperti Uni Eropa, Uni Emirat Arab arab, Asia, dan Amerika mendukung PM 100 persen jika ada jaminan ekonomi yang kita gadai secara subjek hukum mengikat tentu mereka mendukung kita. Kalau hal itu tidak dilakukan berarti tidak usah mimpi karena mereka tidak mendukung kita 100 persen.
- Pengorganisiran basis komando harus dievaluasi total dan ditingkatkan.
9 Pendidikan politik untuk kesadaran generasi muda Papua perlu dievaluasi dan ditingkatkan.
- Setelah persiapan sudah matang operasional difokuskan pada aset vital sebagai target utama seperti Tambang Gresbeg, pasar, listrik, airport, pombensin dll.
- Harus pastikan perbanyak pelatihan personil wartawan lokal, dan internasional untuk fokus pada perang media. Setelah dilatih ditugaskan di semua Kodap pertahanan.
- Pada era industri 4.0 perang media, perang cyber, dan perang ekonomi dampak (intensitas-Nya) jauh’ lebih Dahsyat dari pada perang konvensional. Jadi tiga jenis perang ini harus evaluasi dan diprioritaskan segera!
- Indonesia gunakan issue di panggung internasional dan regional membangun diplomasi meredam perjuangan PM yaitu, pertama “Issue Pembangunan dan kesejahteraan, dua Issue kedaulatan negara”. Kedua isue ini harus dipatahkan dengan strategi diplomasi yang benar-benar matang untuk meyakinkan masyarakat serumpun negara-negara Melanesia di kawasan Pasifik dan internasional.
Demikian catatan kali ini. TERIMA KASIH, SELAMAT MWMBACA🙏
Salam juang
Kota matahari terbit, 7 Nopember 2023